Rabu, 16 April 2008

Tujuh Tantangan Bagi Pengembangan CSR

Salah satu proses penting dalam merencanakan dan mendesain program CSR adalah proses pengidentifikasian kebutuhan riil yang ada di masyarakat. Proses tersebut bisa dilakukan lewat pertemuan dan dialog langsung dengan, antara lain, tokoh masyarakat, pemimpin agama, pemerintah daerah, dan lembaga swadaya masyarakat. Pemerintah DKI sebagai salah satu pemangku kepentingan sudah blak-blakan menyuarakan sejumlah permasalahan yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta, tentu dari sudut pandang Pemerintah DKI. Apa saja permasalahan tersebut?

Banjir, pengelolaan sampah, perumahan yang layak, kemacetan, pengemis, polusi dan kemiskinan. Itulah tujuh permasalahan yang diutarakan oleh Asisten Sekretaris Pembangunan DKI Nurfaqih Wirawan baru-baru ini. Menantang bukan?

Tentu, CSR yang baik bukan sekedar bagi-bagi dana untuk memecahkan masalah yang sebenarnya harus ditanggulangi oleh pemerintah. Tapi suka atau tidak suka, ketujuh permasalahan itu sudah memberi dampak bagi masyarakat luas dan pemerintah sepertinya kurang berdaya untuk menyelesaikannya.

CSR adalah bagian tak terpisahkan dari manajemen usaha suatu perusahaan. Melalui kegiatan CSR, perusahaan proaktif menjalin dan membangun hubungan dengan para pemangku kepentingannya. Dan melalui proses menjalin dan membangun hubungan inilah maka perusahaan mampu mengidentifikasi sejumlah permasalahan dan informasi penting bagi keberlanjutan usahanya. Dengan memandang munculnya permasalahan sebagai peluang, maka perusahaan bisa mengambil manfaat dari program CSR yang terencana dengan baik.

Nah, siapkah perusahaan menjadikan satu, dua atau tiga permasalahan yang dihadapi pemerintah DKI sesuai dengan bidang dan strategi usaha mereka? Permasalahan perumahan yang layak tentu asyik bila digarap oleh perusahaan properti, konstruksi semen, cat dan genting, sedangkan permasalahan kemiskinan pasti menantang bagi bank dan lembaga keuangan dalam memberdayakan masyarakat melalui, misalnya mikro kredit.

Bila permasalahan tidak secepatnya dikelola dengan baik, tidak mustahil suatu saat terjadi pergeseran kemarahan masyarakat dari pemerintah ke pihak swasta. Misalnya, masalah kemacetan, bisa saja suatu saat kemarahan beralih dari kemarahan pada pemerintah ke pihak produsen kendaraan bermotor.

Hal yang sama sudah terjadi dengan masalah obesitas, yang sebenarnya kesalahan individu konsumen. Tapi pelan namun pasti, kemarahan mulai bergeser ke sejumlah produsen makanan yang menggelontorkan lemak jenuh ke produk mereka. Waspadalah! Kelolalah permasalahan dan risiko sejak awal sebelum menjadi krisis yang menghantam usaha Anda. CSR adalah bagian penting dari manajemen risiko tersebut. Nah, tunggu apa lagi?