Ada beberapa perusahaan yang tidak ingin publikasi atas kegiatan CSR mereka dengan berbagai alasan yang kedengarannya mulia, antara lain tidak ingin mengurangi anggaran CSR mereka yang terbatas untuk keperluan publikasi, tidak ingin seolah-olah 'ada udang di balik batu' dalam menjalankan CSR mereka.
Tapi alasan-alasan seperti ini menunjukkan kesalahpahaman mereka tentang CSR, yang sekedar dipahami sebagai kegiatan 'berbagi' alias kegiatan 'amal'. Padahal CSR jauh lebih dalam dari sekedar amal, karena CSR merupakan bentuk keterlibatan dan dialog terus-menerus dengan berbagai pemangku kepentingan atas sejumlah permasalahan yang penting bagi mereka.
Keterlibatan inilah yang kemudian membuat perusahaan semakin memahami aspirasi semua pemangku kepentingan dan, dengan demikian bisa melihat sejumlah peluang pengembangan usaha, pengemasan produk dengan cara baru, pencitraan merek dengan cara baru. Kedua, hubungan dan keterlibatan erat dengan para pemangku kepentingan ini pada akhirnya akan menjamin kelangsungan atau keberlanjutan usaha dan pengembangan usaha perusahaan.
Lalu, peran humas di mana? Kalau CSR dipahami dalam konteks di atas maka peran humas justru stategis sekali sebagai pusat komunikasi antarberbagai departemen dalam perusahaan, termasuk pihak manajemen puncak, dan juga dengan berbagai unsur pemangku kepentingan, termasuk LSM, pemerintah, mitra usaha dan karyawan-karyawati perusahaan itu sendiri.
Humas juga berperan penting dalam memfasilitasi proses pengidentifikasian sejumlah pemangku kepentingan penting dan sejumlah mitra potensial, menggulirkan dialog dengan berbagai pemangku kepentingan dan membantu proses pengidentifikasian sejumlah permasalahan penting yang bisa diangkat dalam sejumlah program CSR, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program, mengkomunikasikan kemajuan dan kelambatan sejumlah program dan mengidentifikasi sejumlah peluang bagi pengembangan usaha.
Peran perusahaan PR dari luar dengan segudang pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan dalam hal CSR bisa sangat membantu. Perusahaan PR biasanya memiliki sejumlah hasil riset tentang CSR, reputasi dan kepercayaan konsumen dan memiliki sejumlah pakar dalam bidang CSR yang bisa memberi masukan dan arahan strategis yang biasanya kurang dimiliki oleh humas internal perusahaan.
Nah, apakah perusahaan menghambur-hamburkan uang dalam kegiatan CSR mereka? Rasanya tidak, karena CSR adalah investasi strategis. Tanpa CSR, cepat atau lambat perusahaan akan kehilangan kedekatan dan keakraban dengan para pemangku kepentingannya, termasuk karyawan-karyawatinya dan konsumennya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar